Jilbab sebagai Mode

Mode busana selalu mengikuti perkembangan objektif suatu masyarakat. Kondisi geografis, topografi, klimatologi, agama, budaya, strata sosial dan lain sebagainya, ikut serta menentukan mode, corak, bahan, motif dan ketentuan penggunaan mode. Kawasan Timur-Tengah yang hidup dalam keganasan padang pasir berdebu, terik panas matahari yang membakar, memaksa mereka hidup dengan pakaian khusus. Penduduk di daerah kutub, yang hidup di hamparan salju yang dingin menusuk, memaksa mereka menciptakan mode dan bahan busana tertentu. Pakaian “terbuka” atau “tertutup” tidak otomatis menjadi cerminan kepribadian dan kesadaran religius seseorang. Di musim dingin perempuan di Barat rata-rata menggunakan busana tertutup, bahkan terkadang hanya kelihatan bola mata, tetapi orang yang sama juga menggunakan pakaian “terbuka” bahkan sangat minim di musim panas. Orang yang hidup di daerah khatulistiwa, seperti Indonesia, tidak mengenal musim dingin dan musim panas, siang dan malam sama waktunya. Dengan sendirinya juga memiliki mode, bahan dan motif busana tersendiri.

 

Di kalangan orang-orang Arab, penggunaan pakaian penutup aurat menunjukkan variabilitas yang tak berkesudahan. Secara umum, pakaian Arab dapat dibedakan dalam istilah-istilah material berdasarkan penggunaan : pertama, jenis-jenis pakaian yang menutupi kepala dan rambut (seperti milayah, ‘aba atau izar) di satu sisi, kedua, jenis-jenis pakaian yang secara eksplisit dan eksklusif digunakan untuk menutupi muka, sebagian atau seluruhnya (seperti burqu’, qina’, atau litsmah).

Agama , budaya, status sosial dan situasi-situasi khusus ikut menentukan mode busana, sebagaimana dapat dilihat di bagian pertama tulisan ini. Keadaan dan momen tertentu juga bisa berpengaruh terhadap model busana. Pada saat bulan Ramadhan, kita akan menyaksikan semakin banyak lagi artis dan publik figur mengenakan jilbab, meskipun kembali lepas selepas Ramadhan.

 

Santrinisasi masyarakat perkotaan melalui maraknya pengajian dan dakwah, baik secara visual maupun melalui media cetak dan elektronik, ditambah urbanisasi komunitas santri, ikut serta mempercepat maraknya perkembangan mode busana muslimah. Jilbab tidak lagi hanya berfungsi sebagai penutup aurat ataupun melindungi diri dari panasnya cuaca, tapi sebagai mode dan gengsi status sosial seseorang.

 

 

Oleh  : Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A.

Buku : Fikih Wanita untuk Semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s